Warung Mie Ayam “Asli Wonogiri”, Niten, Bantul

Saya masih di Warung Mie Ayam “Asli Wonogiri” Jln. Bantul Km 7, Yogya, saat mulai menulis ini, dan saya lanjutkan di perjalanan menuju Solo. Begitu selesai nulis, nanti langsung saya posting. Sekitar di Klaten, sepertinya.

Ceritanya, saya sedang jalan-jalan bareng keluarga. Sebenarnya bukan jalan-jalan murni, karena memang ada yang dituju di kota Solo. Agar perjalanan tidak membosankan, saya sengaja mencari jalan-jalan sepi. Dari Kebumen melewati jalan pinggir pantai, menuju ke timur sampai Bantul. Baru dari Bantul melalui jalan utama, Jl. Solo.



Wongbumen.info online lagi

Anda mungkin pernah mendengar blog wong bumen, wongbumen.info. Bila pernah, berarti anda memang peselancar internet yang luar biasa. Karena bila anda tidak luar biasa, tentu anda tidak akan menemukan blog orang lokal itu. Blog orang lokal, orang Kebumen.

Blog wongbumen.info berdiri sekitar tahun 2007, tapi mengalami pasang surut. Biasalah, pengelolaan yang amatiran yang menyebakannya pasang surut itu. Sejatinya ingin profesional, tapi untuk sampai pada pengelolaan yang profesional, banyak hal belum bisa dipenuhi.



Sumiah, WC dan Sumurnya

Bukan musim kemarau, bukan pula di daerah kering. Tapi Sumiah harus mengayuh sepeda setidaknya dua kali sehar,pagi dan sore, sejarak sekitar 2 kilometer. Sekedar untuk mandi, dan –maaf– beol.

Ceritanya berawal dari kecelakaan anaknya, Parmin. Kecelakaan yang berbuntut amputasi kaki anak ibu Sumiah.

Biaya rumah sakit cukup besar, yang hampir tidak bisa dipenuhi ibu Parmin. Dan, solusi untuk dapat uang tuk biaya rumah sakit, Sumiah harus menjual beberapa meter tanahnya. Di tanah yang dijual itu, ada sumur dan WC tempat sehari-hari Ibu Parmin mandi, beol, masak, dan sebangsanya.



Aku merindukanmu, kawan!

Mungkin kamu sudah jadi orang penting sehingga begitu sibuk. Dan tidak bisa meluangkan waktu untuk sekedar ngopi bersama. Padahal dulu, bersama teman-teman lain, kita sering makan nasi liwet berlauk sayur kangkung, bersama. Tapi,  itu dulu, hanya sejarah.

Sungguh aku merindukanmu. Sekedar ngopi, sekali lagi sekedar ngopi. Sambil ngobrol ngalor-ngidul tentang apa itu ideologi yang susah dipahami. Atau ngobrol tentang kehidupan politik yang makin njelehi. Juga tentang kabar teman-teman lain yang kini entah rimbanya dimana. Aku merindukan kehadiranmu.



6 Butir Lombok, Rp 1000

Ganti bunga di halaman kita dengan tanaman lombok. Sederhana saja saya ngomong begitu, ketika beberapa waktu lalu mendengar ibu-ibu kampung ngrumpi mahalnya harga lombok. 6 butir saja sampai seribu rupiah.

Bukan berita sebenarnya tentang naiknya harga lombok. Karena hal demikian sudah seringkali terjadi. Namun demikian, jarang orang mengambil pelajaran dari situasi demikian. Kesandung beberapa kali, paling ngrumpi obatnya.



Merdeka dari media masa

Itu sudah lewat. Itu sudah gak aktual lagi.  Sudah ganti topik. Dan komentar serupa yang kadang saya terima dari beberapa teman.

Contohnya, ketika saya posting status di facebook berkait topik kekerasan dalam rumah tangga, KDRT, seorang teman berkomentar bahwa isu itu sudah lewat. Disaat lain, ketika suatu hari saya diundang untuk ngomong tentang “bagaimana mensikapi hidup di zaman yang apa-apa serba mahal” saya bilang bahwa kembali ke alam, dengan cara mengelola pekarangan kita sebagai alternatif, itu dikatakan juga gak aktual. Ada lagi yang komen tidak aktual ketika ngomong tentang politik uang tapi pemilihan umum sudah selesai.



Pernyataan Sikap

Karena sesuatu hal, saya akan mulai ngeblog lagi, disini. Semoga ini bukan janji kosong…heheheh heheh….



Ngopi-ngopi

“Äyo, ngopi-ngopi,” pesenku melalui es em es. Atau, kadang saya menulis kopi atau ngopi dalam status di facebok atau twitter. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Kopi atau ngopi, kata yang selalu saya ikut sertakan dalam tulisan pendek saya.

Ya, saya memang suka ngopi. Tidak hanya tiga kali sehari, tapi bahkan sampai lima atau tujuh kali. Bahkan kadang lebih. Ngopi menjadi hal yang sangat menyenangkan, apalagi bila sedang nongkrong di depan Computer, nulis sesuatu.



Akun Nonaktif..

suspended 

Beberapa waktu lalu –sampai satu bulan lebih– anda menjumpai gambar ini di blog ini. Kenapa? Jawabnya mudah, karena saya belum membayar akun ini, Jadi non aktif..hehehe….



Ini Politik, kang..

“Ini politik kang,   gak bisa kita pake idealisme lagi,” kata seorang teman, ketika suatu hari berbincang dengan saya. Dia itu dulu seorang aktivis, cerdas dan idealis. Tapi kini dia masuk dalam kancah politik. Apa yang saya lihat tentang dia, dulu, sungguh berbeda dengan dia  yang sekarang. Saya tidak mengatakan bahwa sekarang lebih buruk dari dulu. Saya hanya ingin mengatakan bahwa dulu dia mendewakan idealisme, tapi sekarang, setelah masuk dunia politik, dia membuang idealisme dalam bak sampah.