Writings on culture and local wisdom
Joko akhirnya menyadari kesalahannya. "Aku memang salah," pikirnya. "Kalau saja dulu aku mendengarkan nasehatmu, Amran sudah sukses di dunia bisnis." Joko menghela nafas, panjang. Aura kesalahan memancar dari wajahnya.
Sumiati, istrinya, menangkap aura kesalahan itu. "Tidak," katanya, "Bapak tidak salah. Kita bersama yang salah." Sumiati mendekat suaminya, memeluknya. Erat. Rasa bersalah Joko agak berkurang.
"Tapi," kata Joko, masih dalam pelukan suaminya. "Bukankah aku yang dulu ngotot agar Amran sekolah, menjadi sarjana, menjadi orang pintar, lalu bekerja di tempat yang baik dengan bekal kesarjanaan itu?"
"Ya, anak kita sudah menjadi sarjana pak. Dia menjadi orang pintar, orang pintar model sekolahan. Berbeda dari teman-teman sebayanya di kampung kita. Bukankah itu sudah cukup?"
Joko menggeleng. "Amran memang sarjana. Tapi, sudah empat tahun sejak wisuda, dia masih nganggur. Kalau saja dulu aku mendengar nasehatmu, Amran sudah mempunyai perusahaan pengilingan padi dan pemancingan ikan di kampung ini. Aku minta maaf bu, karena keegoisanku, akhirnya korbannya adalah anak kita."
Sumiati memeluk erat Joko. "Sudahlah pak, semuanya belum terlambat," katanya.
***
Terlintas jelas dalam benak Joko, sekitar tujuh tahun lalu ketika sumiati, istrinya, mengajak rembugan mengenai masa depan Amran, anak mereka satu-satunya. "Menurutku, Amran tidak usah sekolah," kata Sumiati ketika itu. "Dia tidak berbakat dalam dunia keilmuan. Bakatnya berbisnis. Kita sudah membuktikan berkali-kali bahwa Amran itu bakatnya dalam dunia bisnis, bukan dunia keilmuan."
"Tapi," potong Joko. "Bukankah bakat itu akan lebih baik jika ditambah dengan pengalaman sekolah?"
Sumiati menggeleng. "Apakah kamu tidak menginginkan anak kita menjadi pintar, sarjana?" kata Joko.
Sumiati mengeleng kembali. "Aku ingin Amran menjadi orang pintar," katanya. "Tapi, apakah untuk menjadi orang pintar harus menjadi sarjana?"
Joko menatap wajah Sumiati. Tak ngerti apa sebenarnya yang ada dalam benak istrinya. Selalu saja dia mengatakan bahwa menjadi orang pintar tidak harus menjadi sarjana. "Memangnya," kata batin Joko, "pintar yang tidak bergelar sarjana itu pintar yang bagaimana? Apakah ada pintar, jika tidak menjadi sarjana?"
Sumiati mengangguk. Joko semakin tidak mengerti mengapa istrinya berpandangan seperti itu. Orang bisa menjadi pinter, tetapi tidak dengan sekolah, tidak menjadi sarjana. "Maksudmu bagaimana?" tanya Joko.
Sumiati menarik nafas, dalam. "Pak, aku sudah berkali-kali mengatakan hal ini. Tetapi bapak belum juga paham. Baiklah, aku akan mengatakan sekali lagi. Kalau bapak tetap tidak paham ya sudah. Bapak adalah kepala keluarga, dan bapak berhak menentukan keputusan akhir. Tidak akan selesai persoalan jika tanpa adanya keputuan akhir"
Joko menapatap isrinya. "Baiklah," kata Joko.
"Pak," kata Sumiati. "Sebenarnya aku ingin anak kita sekolah. Tetapi kita harus sadar, sekolah biayanya mahal, apakah kita mampu? Kalau kita mampu, tidak ada masalah. Kalau aku, sederhana saja. Daripada untuk membiayai sekolah yang mahal itu, mendingan uang yang kita punya kita belikan mesin penggilingan padi. Orang-orang kampung sedang membutuhkan penggilingan padi itu. Nanti, Amran yang memegangnya. Kalau uang kita masih lebih, kita bikin kolam ikan. Buat siapa lagi kalau bukan untuk Amran, anak kita?"
"Apakah kamu ingin anak kita hanya seperti itu?" potong Joko.
"Terserah bapak," jawab Sumiati. "Bapak adalah kepala keluarga. Bapak yang berwenang menentukan kata akhirnya. Aku hanya usul, termasuk usul mengenai pendidikan anak kita. Amran bisa saja mengikuti kursus apa saja, sambil menjalankan mesin penggilingan padi itu. Toh, kita pernah mendiskusikan tentang tetangga kita, yang sarjana. Dia menjadi pegawai negeri, karena sarjana, tetapi nasibnya juga tidak berubah."
"Apa maksudmu?" tanya Joko.
"Jujur saja pak, kita sebenarnya salah, karena menentukan ukuran kesuksesan anak kita hanya dari perolehan materi saja, bukan? Bapak ingin anak kita sekolah, lalu menjadi sarjana, lalu sukses menjadi orang kaya. Begitu bukan?"
Joko menundukkan kepala.
"Aku juga demikian, pak," lanjut Sumiati. "Tapi aku lebih realitis. Melihat kemampuan kita. Kalau kita ada biaya untuk sekolah Amran, tiak masalah. Tapi, kita hanya punya sedikit biaya, dan aku kira itu lebih bisa membuat sukses Amran jika dia sejak sekarang memulai berbsisni, pengilingan padi. Lah, kalau sekolah, apa jaminan bapak bahwa Amran akan sukses?"
"Jangan bermimpi sekolah menjadi orang sukses, pak, "lanjut Sumiati. "Sekolah memang bisa membuat oang tambah pintar, tetapi sulit membuat orang menjadi sukses. Untuk menjadi sukses, apalagi sukses ekonomi, orang harus berbisnis. Tititik. Tiak ada jalan lain di zaman yang macam begini. Tapi, kalau bapak ingin Amran menadi orang pintar, itu terserah bapak".
"Apa kamu tidak ingin anak kita menjadi anak pintar?" tanya Joko.
Sumiati menarik nafas, panjang. "Aku juga ingin aanak kita menjadi pinter pak," kata sumiati. "Tapi, kalau pintar itu pintar model sekolahan. Pintar model sekolahan itu biayanya mahal, lagi pula tidak menjamin menjadi orang sukses. Disamping karena kita minim biaya, aku ingin anak kita pintar dari sekolah kehidupan".
"Sekolah kehidupan?" tanya Joko. "Aku makin pusing dengan jalan pikiramu."
****
"Belum terlambat bagaimana?" tanya Joko. "Bukankah anak kita sudah kadung pintar model sekolahan?"
Sumiati melepas pelukan suaminya. "Ya, anak kita memang sudah pintar, pintar model sekolahan. Kita juga tidak mungkin membuat penggilingan padi, karena pak Ghoni sudah membuatnya, lima tahun yang lalu. Kita juga tidak bisa membangun pemancingan ikan, karena di kampung kita sudah ada tiga kolam pemancingan ikan. Tapi kita masih ada cara lain."
"Cara lain, apa?"
"Kita masih punya sawah. Ya, sawah pak. Mengapa kita tidak minta Amran mengurus sawah, menjadi petani?" kata Sumiati.
"Apa? Menjadi petani?" tanya Joko, kaget. "Memangnya, dia mau?"
Sumiati diam. Lalu berkata,
"Aku tahu, Amran tidak akan mau. Dia malu ke sawah, seorang sarjana kok turun ke sawah. Ya itulah, pintar model sekolahan, semakin pintar tetapi tidak mau turun ke sawah. Padahal, biaya sekolah dia juga dari padi yang kita tanam di sawah."
"Kalau dia tidak mau?"
"Aku yakin kalau dia tidak menemukan pekerjaan sesuai dengan "kepintaran model sekolahan" yang dia punya, nanti dia akan mau."
Joko menundukkan kepala. Dalam benaknya berfikir, "Sekolah tinggi-tinggi hanya menjadi petani. Tapi, bukankah dia bisa sekolah juga karena hasil pertanian?"
"Dia tidak salah pak," istrinya berkata. "Menurutku, yang salah itu model sekolahannya. Model sekolahan di negeri ini kebanyakan menjauhkan anak-anak petani dari sawahnya."
Joko terdiam, merenungi kata-kata istrinya.***
10 Responses for "Sekolah Tinggi, Hanya Menjadi Petani!"
yup benar kata bu Sumiati, model sekolahan yang salah, sekolah telah mengisolasi kehidupan anak dari lingkungannya… thx pak
Pekerjaan sebagai petani memang kurang dihargai di masyarakat kita, entah karena sifat pekerjaannya, atau karena penghasilannya yg relatif minim. Mungkin inilah yg mengakibatkan sedikitnya kalangan berilmu yg mau turun ke sawah dan mengaplikasikan ilmunya menjadi petani yang pintar model lapangan dan sekolahan. Bagaimanapun, knowledge is power, and freedom.
sangat menarik pendapat Sumiyati, bahwa untuk pinter tidak harus kuliah/sekolah. ternyata sekolah hanya mengantarkan pada penyesalan karena telah menghabiskan uang sekian tahun yang hasilnya si Amran gak kunjung kerja.
Senada dengan pendapat Sumiyati. bahwa ini kesalahan bersama. tidak hanya Sumiyati, joko, Amran. Kita pun yang diluar cerita ini (user yang ngebaca dan pemilik BLOG ini he,,,,he,,) salah.
secara umum orang pergi belajar ke negeri orang karena ada fasilitas. saya pergi ke Jombang karena ada universitas disana. Pak Tajib pergi ke IAIN suka karena di Jogja ada kampusnya, Pak Salim sama. Rustri pun ke Purwokerto karena ada kampus. artinya karena ada failitas pendidikannya. tapi bayangin temen kita Pak Aris Panji….ia tidak ke kampus mana-mana tapi kalau dihadapkan dengan orang kampus ia gak minder tuh…..bahkan pada level tertentu ia mungkin lebih cerdas….aja GR Pak….tapi kasunyatan.
Artinya,,,,kita pergi jauh-jauh ke kota lain karena ada fasilitas sekali lagi. Coba kalau kita dekatkan fasilitas itu. kita nggak usah-usah ke sana. yang membedakan kita orang kampus dengan orang semacam pak Aris adalah orang sekolahan penataan pola pikir lebih karena sentuhan akademik. nah, orang-orang kaya pak aris dan sejenisnya….ha….emangnya apaan, lebih karena proses pembelajarannya terhadap kasunyatan yang ada dan secara tidak langsung menata pemikirannya. meski bagi kalangan akademisi mungkin tidak apa itu……metodologis atau apa…ora ilmiah embok….
dari dua dunia ini mungkin baik kalau kita gabungkan aja. pertama mungkin Amron akan pinter, tanpa harus ke luar kota, kalau saja akses dan fasilitas di daerahnya ada. dengan kata lain akses pendidikan seharusnya lebih dekat. cari buku tidak harus jauh-jauh ke Jogja. ngenet tidak harus nunggu kuliah di Jogja.dllll kedua si Amran tidak tercerabut dengan akar budaya dan potensi daerahnya. masalah bahwa kita perlu tahu dunia lain itu pada proses pengembangannya kemudian. yang penting Sekolah kan hanya sekedar menyediakan “tool” jarene. saat kita kembali ke kampung tool inilah sebenarnya yang akan membantu memecahkan problematika dimanapun kita berada. tapi karena khalayak memandang sekolah itu untuk kerja (perusahaan, PNS, dll) jadi seolah-olah bertani itu bukan bekerja….
Joko malu ya mungkin karena faktor itu. dan sekolah telah menciptakannya pula. iya..khan…?
“Common-Sense” atau Pendapat umum masih membuat tolok ukur “jatidiri” dan keberhasilan hidup seseorang berdasarkan “jabatan, pangkat dan kekayaan, bahkan juga termasuk keutuhan fisik”. Padahal “jatidiri dan keberhasilan hidup” seseorang bukan terletak pada pekerjaan, status, kekayaan n jabatan melainkan terletak pada “nilai yang dihidupi”: jujur, rendah hati, murah hati, enthengan dst. nah petani itu sebuah profesi yang memungkinkan orang belajar sabar, rendah hati dan bersahaja.
warm regards,
bslametlasmunadipr
ceritanya menarik dengan gaya bahasa yang lugas dan enteng untuk dimengerti, aku suka banget tuh,
apakah memang benar universitas itu malah menjauhkan anak seorang petani jauh dari sawahnya sendiri, padahal hasil dari sawah tersebutlah yang berhasil membiayai hingga dia menjadi sarjana
aku sendiri anak seorang tukang kue, aku tak pernah sedikitpun merasa malu untuk berjualan di kue, karena orangtuaku membaiyai sekolahku hasil dari kue tersebut
sebenarnya apa sih yang mesti kita maluin, apakah gara gara “imej orang lain”
“anak petani tuh pasti miskin…..”
“anak tukang kue ya pasti culun dan kuper banget…”
apakah itu semua yang membuat kita lalai dengan keberadaan dan kehidupan kita sendiri.
gak lucu kan jika kita tiba tiba malu untuk sesuatu yang benar dan untuk sesuatu yang tidak salah, untuk sesuatu yang karenanya kita bisa seperti saat ini…
salam perdamaian untuk anda yang sedang menunaikan tugas yang mulia
salam persahabatan
setelah saya membaca cerita pak joko dan komentar dari teman-teman,saya punya pemikiran seperti ini ….
segala sesuatu itu semua tergantung pada diri kita masing-masing,orang mau sukses dan tidak itu dari kemauan kita sendiri,yang jelas jika kita masih punya kemauan dan mau bertindak insya Alloh kesuksesan akan terwujud.
saya sependapat dengan ibu sumiati,jika kita masih ada kemauan dan mau bertindak masih banyak jalan untuk kita sukses.dan sayapun sependapat dengan pak joko,pendidikan memang perlu bahkan penting.
nah……tergantung kita,bisa melakukan itu semua apa tidak……..?
oke…………kita boleh bicara karena model pendidikannya yang bagaimana,……….saya tidak tau,sebenarnya kita janganlah saling menyalahkan,kembali ke depan,segala sesuata itu tergantung pada diri kita masing-masing.
jadi kita jangan menyalahkan model pendidikan,tempat pendidikan,keputusan pak joko.
saya juga sependpat dengan mas borni alan,semua ini mungkin salah kita semua yang menerapkan pola hidup seperti itu.saya juga sependapat dengan mas alfarobi janganlah malu untuk kita melakukan pekerjaan yang kasar,seperti apa yang di katakan ibu sumiati menjadi seorang petani di sawah dan yang dilakukan oleh mas alfaroby sendiri.saya salut sama mas alfa,mungkin kuliah sambil jualan kue gitu ya mas……..?,
itu patut kita acungi jempol.itulah salah satu orang yang perlu kita tiru.dan sebenarnya saya juga masih belum ngerti apa yang di maksud dengan sukses……….?apakah banyak harta..?,tercapainya suatu jabatan..?,kehidupan yang mapan…?atau semua kebutuhan hidupnya yang tercukupi…?atau yang bagai mana……..?
saya belum ngerti.mungkin yang menilai seseorang sukses adalah orang yang ada di sekitar kita yang melihat kita lebih di atasnya.tapi belum tentu orang itu sendiri yang di pandang sukses sudah merasa sukses.
nah……………. itu lah yang menjadi sebuah pertanyaan sebenarnya sukses itu apa sih………?
terima kasih,……………..
salam persahabatan.
Jangan menghina petani nih!! Petani sekarang bisa kaya lho. Pakdhe punya sawah sepathok tiap 4 bulan dapet gabah ditebaskhan dapat hasil 7 juta. Sekarang punya garapan 10 pathok tiap 4 bulan dapet 70 juta. punya buruh juga. Klo sarjana ingin jadi petani ya harus mau rekoso ..dulu belajar. :). Emang bener kata kang tajib…….kita harus mengarahkan anak kita pada bakat&potensinya biar gak jadi pengangguran.
Kalau tujuan tertinggi hidup kita sekedar menjadi PNS, atau mengejar materi saya kira naif….tul kan?
Model sekolahan?
Model pekrjaan?
sekolah dan pekerjaan?
pekerjaan dan sekolah?
duh rumit banget
lakoni aja hidup ini
hihih ihih
tercermin dari sebuah institusi pendidikan yg katanya berjuluk insetitut pleksibel banget. sarjananya sukses di mana-mana kecuali di bidang yg digelutinya di kampus. tidak lain dan tidak bukan: bidang pertanian.
kebetulan aku salah satu alumnusnya dan mulai tergerak untuk bergerak di jalur itu.
salam sepoi-sepoi dari bumi sambara.
(sister-site dari bumisegoro)
Leave a reply