Warga dusun itu sebenarnya ingin berubah, tapi…
By kang tajib on May 01, 2009 with Comments 1
Sekitar tiga/empat bulan lalu saya bersama warga sebuah dusun, sebut saja dusun X di Kebumen, membuat pupuk organik. Saya bahagia sekali saat pembuatan pupuk itu, karena pembuatannya didukung tidak hanya orang tua, tapi juga anak-anak muda. Kebagiaan saya bahkan sampai ubun-ubun, karena diskusi pembuatan pupuk itu juga dilakukan di musolla dusun setempat. "Petani harus berdaya," kata salah seorang dari mereke, saat itu.
Tapi kebahagiaan saya sedikit meluntur saat berkunjung beberapa hari lalu. Mengapa meluntur?
Saat sebelum pembuatan pupuk itu, saya sering berdiskusi dengan mereka tentang perlunya warga dusun setempat membuat pupuk organik. Saya tunjukan argumen dari yang kelihatannya akadamis, tentu dengan bahasa mereka, sampai alasan praktis. Alasan akademis misalnya, pertanian pakai pupuk organik akan membuat kita menjadi lebih sehat karena mengurangi kandungan kimia dari bahan makanan yang kita makan. Sementara alasan praktisnya, pupuk komia itu harganya mahal. Kebetulan saat itu pupuk kimia sedang mahal. Sudah mahal, barangnya susah didapat pula.
Singkat cerita, akhirnya pembuatan pupuk organik dilakukan. Bahannya dari kotoran sapi yang dikumpulkan dari sekitar 40 sapi milik warga di salah sau RW dusun itu. Saya membayangkan saat itu adalah awal dari kebangkitan warga setempat untuk hidup berorganik, karena mereka juga menyadari tidak hanya kotoran sapi, yang jumlahnya tidak seberapa dibandingkan dengan luasnya sawah yang ada, tapi juga mereka ingin membuat kompos dari bahan sampah dapur.
Berkait sampah dapur ini, para ibu-ibu juga bersedia untuk membuat komposnya. Pendek kata, dukungan tidak hanya dari petani, yang selama ini diasumsikan laki-laki. Tapi juga dari kalangan ibu-ibu, yang makin hari makin pusing dengan masalah sampah dapur. "Satu dulu saja, nanti kalau ini sudah berjalan, kita kembangkan kompos dari bahan sampah itu," saya katakan itu kepada seorang ibu warga setempat.
Saat ini, kini pupuk telah jadi –walau pun mungkin belum sempurna. Dan ketika saya berkunjung beberapa waktu lalu ke dusun itu saya bertanya kepada mereka tentang bagaimana rencana kelanjutanannya. Apa yang saya lihat ternyata agak berbeda dari saat awal pembuatan pupuk. Perbedaan yang mencolok pada wilayah spirit mereka membuat pupuk organik. Apa spirit mereka, sih?
Saya mendapat pemahaman bahwa mereka saat itu, tiga/empat bulan lalu, mau membuat pupuk organik lebih karena alasan praktis, yakni saat itu pupuk kimia harganya mahal dan "sudah mahal, barangnya susah didapat". Itu spirit mereka. Jadi bukan karena spirit ideologis misalnya karena mereka menyadari tentang bahayanya unsur kimia yang berlebihan dalam pupuk kimia sehingga mereka mesti beralih ke pupuk organik, atau spirit untuk menjaga lingkungan sawah yang makin rusak karena selama ini terlalu kebanyakan pupuk kimia.
Dan, karena saat ini, mereka lebih mudah mendapatkan pupuk kimia, mereka tidak lagi begitu ngeh untuk melanjutkan pembuatan pupuk organik itu. "Wah repot mas, pakai pupuk ini (pupuk kimia) saja, lebih mudah dan praktis," kata seorang warga beberapa waktu lalu. Alasan lain memang banyak dan beragam, tapi alasan seperti terdengar dalam frase "wah repot", "lebih praktis", ternyata lebih mengemuka.
Ada juga yang beralasan, "sekarang banyak pupuk organik yang beredar, membeli lebih mudah dan tidak merepotkan". Ada pula yang bilang, mahal dikit gak apa-apa, tapi barangnya ada.
Saya mantuk-mantuk saja mendengar cerita mereka. Mungkin karena "provokasi" saya yang kurang canggih, atau malah karena memang mereka sudah terpojokkan ke situasi macam itu. Situasi dimana "memilih dengan kehendak sendiri, yang didasari pengetahuan" ternyata sesuatu yang tidak mungkin. Saya yakin sekali, bahwa mereka sebenarya memilih hidup sehat, ingin tanah mereka tidak rusak sehingga bisa berkelanjutan, ingin menghasilkan padi lebih banyak dari biaya produksinya, dan pilihan itu ada pada padi organik.
Tapi, pilihan itu menjadi tidak seksi ditengah terpaan situasi lain yang mereka belum, atau malah tidak, mampu melawannya. Walaupun secara nyata, warga di dusun itu telah bebas buta huruf, sebagian mereka telah menjadi sarjana, umumnya lulusan SMU, dan mereka adalah orang-orang yang suka ritual keagamaan, seperti salat, tahlilan, peringatan hari besar Islam, dan semacamnya. Mengapa resources yang hebat begini belum mampu mendorong mereka melawan "situasi lain" itu?
Sumber tulisan: http://akhmadmurtajib.com
Related Posts
Filed Under: Opini

![[Ask]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/ask.png)
![[Bloglines]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/bloglines.png)
![[del.icio.us]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/delicious.png)
![[Digg]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/digg.png)
![[Facebook]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/facebook.png)
![[Feed Me Links]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/feedmelinks.png)
![[Google]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/google.png)
![[LinkedIn]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/linkedin.png)
![[MySpace]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/myspace.png)
![[Twitter]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/twitter.png)
![[Windows Live]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/windowslive.png)
![[Yahoo!]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/yahoo.png)
![[Email]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/email.png)










Artikel yang sangat bagus, dapat menambah ilmu dan bisa saling berbagi.
Terima kasih sukses selalu.