Sikun terserang Virus Internet
By kang tajib on Oct 14, 2009 with Comments 0
Jomad sepertinya sedang marah ketika datang ke tempat saya. “Ada apa kang, sampeyan kelihatannya sedang marah. Kepada siapa? Kepada saya-kah?” Saya mengajukan pertanyaan. Tapi sampai agak lama Jomad tidak menjawab apapun.
Jomad menyandarkan tubuh di risban bale rumah saya. Matanya menerawang ke atas, entah apa yang dilihat. Paling melihat langit-langit rumah berupa genteng, yang dibawahnya dilapisi plastik. Dan plastik itu berbunyi kresek..kresek….ketika angin agak kencang masuk melalui celah-celah genteng.
Kadang menyeramkan.
Apakah Jomad sedang memperhatikan plastik itu? Ah tidak. Jomad jelas tidak sedang memperhatikan plastik itu. Dia biasanya datang kesini sambil mengumbar senyum, diselingi ketawa ketiwi di sela-sela kelucuannya. Dia itu orang yang periang, sekalipun beban berat sedang dia pikul.
Beberapa waktu lalu istri Jomad sakit, dirawat di rumah sakit. Jomad mampir ke rumah, sejenak untuk mandi, karena dia alergi dengan air di rumah sakit. Tapi wajah jomad tidak murung, bahkan masih bisa ketawa ketiwi. Bahkan istrinya yang sakit pun menjadi bahan humor.
Jujur saja, aya senang dengan humor Jomad. Apalagi setelah saya renungkan, banyak sekali humor yang keluar dari bibir Jomad mengandung falsafah hidup. Kadang, humornya merupakan cerminan hidup para filsuf. Maklumlah, Jomad dulunya mahasiswa filsafat salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta.
Tapi, sore kemarin, Jomad nampak marah. Ada apa sebenarnya? Saya penasaran, tapi saya urungkan bertanya. Karena tidak lama kemudian, mata Jomad telah terpejam. Bukan mati, tapi tidur untuk sementara waktu.
****
“Memang hak-nya Sikun untuk tidak menjawab setiap pertanyaanku,” ceritanya setelah bangun, atau tepatnya setelah ngopi. Asap rokok mengepul di depan wajah Jomad. “Tapi, sebulan terakhir Sikun sangat dingin, sering tidak menjawab pertayaanku.”
Sikun adalah teman Jomad. Sependek yang saya tahu, pertemanan mereka sangat akrab selama ini. Bahkan kedekatan saya dengan Jomad kalah dengan kedekatan Jomad dengan Sikun. Kedekatan Jomad dengan Sikun itu bahkan seperti saudara sekandung, senasib sepenanggungan.
“Memangnya kenapa Sikun tidak menjawab pertanyaan sampeyan, kang?” Saya bertanya. “Atau mungkin karena pertanyaan sampeyan berat dan Sikun tidak tahu jawabannya?”
“Tidak,” kata Jomba.
“Mungkin Sikun sedang punya masalah.”
“Tidak juga.”
“Sedang tidur?”
“Ha ahahha,” Jomad tertawa.
“Ya gak lah, kalau Sikun tidur ya tidak bisa menjawab pertanyaan. Dia tidak tidur, tapi dia bermain-main handphone terus.”
“Maksudmu?”
“Begini kang,” kata Jomad. “Saya ingin cerita sama sampeyan. Mungkin sampeyan bisa ikut memberi pencerahan kepada saya.”
Ehm. Saya mendehem mendengar kata pencerahan. “Memangnya saya filsuf?”
“Bukan begitu kang,” katanya. “Ini bukan masalah filsuf atau bukan filsuf. Ini masalah perkawanan. Masalah saling menghormati, saling menghargai.”
Saya mengambil sebatang rokok, menyulutnya, sambil mendengarkan cerita Jomad, tentang Sikun.
****
Sudah tiga bulan Sikun punya handphone bagus. Handphone yang bisa akses internet. Betapa senangnya Sikun dengan handphone itu, karena dimana pun dia bisa akses internet. Dia bisa chek facebook, email, twitter, dan lain-lain dari handphnrnya. Dimana pun, bahkan di WC sekalipun.
Ketika awal, banyak teman dan saudara Sikun memaklumi. “Maklum saja handphone baru, bagus lagi. Nanti kan lama-lama bosan,” Itu tanggapan teman-teman dan saudara Sikun. Jomad pun menyadari dan memaklumi.
Satu hari, dua hari, satu minggu dua minggu, satu bulan, dua bulan….waktu terus berjalan. Sikun makin asik dengan handphonenya. Makin asyiknya sampai dia lupa dengan dunia sekelilingnya. Lupa bahwa dia sedang bersama orang lain, lupa bahwa dia sedang bersama anak dan istrinya.
Kadang Sikun tertawa sendiri, lalu mrengut, ketika memencet-mencet handphone-nya. Kala sedang sendirian bersama handphonenya, pun ketika ada orang lain. Ketika diajak ngobrol, Sikun kurang merespon, atau merespon tapi sedikit-sedikit. Matanya terus tertuju ke layar handphonenya. Pun ketika yang mengajak ngobrol adalah istrinya sendiri.
“Dia menjadi begitu dingin di depan saya, tidak seperti dulu,” kata Jomad. “Terus terang aku kecewa, bukan semata karena Sikun tidak menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Tapi Sikun telah terkena virus internet, yang masuk melalui handphonenya.”
“Virus computer?” tanya saya.
“Ya,” katanya. “Aku dulu tidak percata dengan sampeyan tentang virus internet. Tapi kini jadi tahu, setidaknya melihat gejala-gejala pada diri Sikun. Dia bisa tertawa sendiri, mrengut sendiri, hanya ketika sedang memencet-mencet handphonenya.”
***
Saya memang pernah bercerita kepada Jomad tentang virus internet. Bukan virus yang merusak software computer. Tapi virus yang merusak kehidupan pengguna computer. Kalau tidak salah, virus itu bernama addictive inernet. Saya lupa istilah ini darimana, atau malah saya hanya mengira-ira sendiri, tapi gambaran kejadiannya makin terasa di sekeliling kita.
Seseorang yang menjadi biasa,dan kemudian kecanduan denagan alkohol, dia akan terus minum. Bisa setiap hari, bahkan siang dan malam. Terlepas apa sebabnya. Dia minum kemudian diangap sebagai dunianya. Dan dunia sekelilingnya dianggap tidak ada, atau dianggap sebagai bagiannya.
Juga, seseorang yang terbiasan dengan rokok, dan tergantung dengan rokok. Dia akan terus merokok. Kepala pusing tanpa rokok, dengan alasan apapun. Yang jelas, rokok telah menjadi bagian dari k ehidupannya, rokok telah menjadi bagian dari dirinya. Dunianya adalah dunia rokok, dan dunia sekelilingnya dianggap tidak ada, atau dianggap sebagai bagian dari dunianya. Makanya, banyak orang merokok cuek dengan sekelilingnya.
Internet itu bisa jadi sama dengan alkohol dan rokok. Bila keranjingan, orang akan terus menggunakannya. Apalagi bila dengan internet orang itu kemudian melupakan kehidupan sekelilingnya. Dia lupa dengan istrinya, anak-anaknya, teman-emannya. Atau orang lain baru dianggap bagian dari dunianya bila dia juga masuk dalam dunia internet.
Mabok alkohol, rokok itu juga bisa terjadi pada mabok inernet.
Internet itu bagus, karena ia merupakan teknologi yang semestinya meningkatkan martabat kemanusiaan. Tapi kalau sudah seperti Sikun, sepertinya membahayakan.
***
“Sikun kini sedang mabok seperti yang kang Tajib ceritakan,” kata Jomad.
Saya mendadak diam ketika Jomad bilang itu. Saya diam, karena saya juga sadar saya pernah cuek dengan sekeliling saya ketika asik ber-internet. Maksudnya, saya juga pernah terkena virus internet macam itu, dan saya hampir kehilangan orang-orang yang mencintai saya yang hidup di sekeliling saya.***
Related Posts
Filed Under: Internet

![[Ask]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/ask.png)
![[Bloglines]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/bloglines.png)
![[del.icio.us]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/delicious.png)
![[Digg]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/digg.png)
![[Facebook]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/facebook.png)
![[Feed Me Links]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/feedmelinks.png)
![[Google]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/google.png)
![[LinkedIn]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/linkedin.png)
![[MySpace]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/myspace.png)
![[Twitter]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/twitter.png)
![[Windows Live]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/windowslive.png)
![[Yahoo!]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/yahoo.png)
![[Email]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/email.png)









