banner ad

Anak tukang becak itu memainkan game perang

Malam itu saya jalan-jalan ke salah satu mall di kota saya, sengaja mencari buku. Di Kebumen, hanya ada beberapa tempat-tempat tertentu seperti toko buku, salah satunya ya di mall itu.

Setelah lihat-lihat buku, saya menyempatkan diri ke ruang permainan (game). Banyak sekali anak-anak sedang bermain game disana.

Tak tahulah mereka itu anak siapa. Yang jelas dari wajah-wajahnya, mereka adalah anak-anak kampung. Kebumen…hampir semuanya kampung, kan?

Beberapa anak tampak canggih main game. Game perang, game motor, dan macem lainnya.

Ada satu anak yang menarik perhatian saya, sedang memainkan game perang. Bergaya Rambo, walau ini hanya tafsir saya, anak itu memanggul senapan, dan kakinya menginjak tombol –mungkin semacam penunjuk arah.

Satu coin dimasukan, mesin game hidup, dan anak itu memainkan pelatuk di senapan yang dipanggulnya. Setelah kaki menginjak tombol dan moncong diarahkan ke gambar orang, anak itu menarik pelatuk menembak musuhnya. Dor…gambar di layar tertembak, kepalanya hancur berkeping-keping. Anak itu tersenyum, ketika kepala musuh hancur berkeping-keping.

Saya lama mengamati anak itu, yang terus bermain, dan menghabiskan beberapa coin. Saya tidak tahu berapa menit satu coin itu untuk main game. Mungkin untuk satu permainan dengan sarat anak itu terus mengalami kemenangan dari satu level ke level berikutnya. Ato hanya beberapa menit, lalu mesin mati bila coin baru tidak dimasukan ke lobang mesin game. Yang jelas dan pasti, saya melihat anak itu memasukan koin sekali dalam waktu kurang dari satu menit. Dan anak itu, dalam hitungan saya, memasukan sepuluh koin. Harga satu koin adalah seribu rupiah. Artinya, dalam waktu kurang dari sepuluh menit anak itu telah menghabiskan uang Rp. 10.000.

Melihat anak itu bermain game, saya jadi mikir dua hal.

Pertama, begitu luarbiasanya teknologi berupa mesin game, atau bentuk lainnya. Tidak hanya anak-anak, tapi orang tua juga banyak yang suka game. Lah wong teman-teman saya juga banyak yang suka game.

Saya bukan orang yang anti game, bahkan banyak game bagi saya itu penting walau saya gak begitu canggih memainkannya. Game pendidikan, tentu. Seperti misalnya, game tentang penanganan bencana (disaster game). Saya pernah memainkan game ini di internet –tapi maaf saya lupa alamat situsnya.

Ada banyak juga game lainnya, dalam kategori game pendidikan. Dan dari semua game yang pernah saya mainkan (walau saya selalu kalah…he he he) itu, pesan yang disampaikan juga jelas. Gamblang, dan mengena.

Saya gak tahu apa pesan dari game yang dimainkan anak itu. Pesan kekerasan, mungkin. Bila pesannya memang kekerasan, pastilah gampang tertangkap anak itu. Buktinya, begitu musuhnya tertembak mati, anak itu tersenyum. Puas, bisa jadi.

Bila demikian, memang mengerikan. Kemenangan dengan kekerasan, bila anak itu bermain terus, akan terinternalisasi dalam ruang pikir anak itu.

Hal kedua yang saya pikir, adalah tentang koin yang harganya Rp. 1.000, dan waktu pemakaiannya hanya sangat sebentar. Tidak kurang dari sepuluh menit, anak itu telah menghabiskan uang Rp. 10.000.
Begitu selesai, anak itu keluar mall. Saya ikuti anak itu, paling tidak untuk tahu siapa dia. Anak itu mendekat ke seorang tua, tukang becak. Apakah tukang becak itu orang tua anak itu; atau hanya pengantar-jemput si anak, saya tidak tahu. Dan saya penasaran ingin mengetahuinya, makanya saya mendekat. Pura-pura lihat hal lain.

Dari pembicaraan yang tertangkap kuping saya, anak itu memanggil bapak kepada tukang becak itu. Anak itu minta uang tambahan, karena masih ingin main game lagi. Tapi orang tua itu menggeleng, sambil bilang sudah tidak ada uang lagi. Anak itu cemberut, lalu naik becak, dan pulang.

Saya menarik nafas, dalam, sambil bergumam dalam hati. Anak itu merengek minta uang lagi untuk mainn game kepada bapaknya yang tukang becak. Main game dengan membayar Rp. 1000 _untuk tidak kurang dari satu menit.

Dunia mungkin sudah kebalik, tukang becak yang membiayai pengusaha mall. Atau pengusaha mall akan bilang, lho ini kan usaha halal?

Wallahualam.

Filed Under: sosial

Tags:

RSSComments (0)

Trackback URL

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.

Anti-Spam Protection by WP-SpamFree