banner ad

Tentang keadilan pembagian daging qurban

Kambing sudah disembelih, dikuliti, dipotong-potong dan akan dibagi-bagi. “Ditimbang dulu biar tahu berapa beratnya,” kata seseorang. “Pembagian nanti berdasar jumlah daging dibagi jumlah penerima.” Tentu itu tidak termasuk daging yang sudah dimasak untuk makan panitia dan yang bekerja.

“Setuju,” kata seorang lainnya. “Pembagian memang harus adil, apalagi ini daging qurban. Jangan sampai ada yang dapat lebih sedikit dari lainnya. Tapi khusus untuk toga (tokoh agama) dan panitia serta yang bekerja, pembagian ditambahi.” Semuanya setuju, karena selama ini memang demikian. Bagi rata.

“Tapi,” tiba-tiba ada yang ngomong, “bagaimana kalau tidak dibagi rata?” Semua panitia memandang orang yang ngomong itu. “Maksudmu?” Tanya lainnya.

“Begini,” jawab orang itu,”aku kira bagi rata terdengar adil, padahal hakekatnya tidak. Makanya aku usul jangan bagi rata.” Semua panitia memandang orang itu. Zaki namanya.

“Mari kita lihat keluarga Tarno, yang jumlah anggota keluarganya delapan. Kita juga lihat keluarga Tukiman, yang hanya tiga anggotanya. Apakah keluarga Tarno dan Tukiman akan mendapatkan jatah daging yang sama?”

Zaki melanjutkan, “Kita juga melihat keluarga Tarman, salah satu orang kaya di kampung ini. Juga kita lihat ibu Tsaminem, janda dengan empat anak, yang miskin. Apakah bagian Tarman dan Tsaminem akan sama?”

Semua orang disitu seolah membenarkan kata-kata Zaki. “Tapi,” seseorang diantara mereka berkata, “kita harus melihat kenyataan lain. Tentang beras raskin, misalnya. Dulu di kampung kita, raskin hanya untuk orang miskin. Tapi itu menimbulkan keirian dari orang yang tidak mendapatkannya, termasuk yang kaya sekalipun. Hingga akhirnya raskin dibagi rata.”

Zaki terdiam, karena dia juga tahu dan melihat sendiri. Pak Tarman, tetangganya yang orang kaya, jelas tidak mau makan jatah raskin. Beras itu untuk makanan ayam piaraannya. Pak Tarman dulu yang protes bila tidak mendapat jatah raskin.

“Bila daging dibagi tidak rata, pak Tarman akan protes?” Zaki bertanya sendiri, dalam hatinya. Tapi tidak ada jawaban. Hingga akhirnya, daging tetap dibagi rata, tak peduli kaya atau miskin, tak peduli berapa jumlah anggota keluarganya. Semuanya dapat jatah yang sama.

Dari dulu memang sudah begitu.
Dan seolah tidak bisa dirubah.***

Filed Under: EkonomiIslamsosial

Tags:

RSSComments (0)

Trackback URL

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.

Anti-Spam Protection by WP-SpamFree