Kucuran dana ratusan juta tanpa melihat kearifan warga desa?
By kang tajib on Dec 07, 2009 with Comments 0
Kemarin sore saya dapat cerita dari seorang teman. Cerita tentang kehadirannya di acara presentasi program PNPM di desanya. Katanya, desanya akan mendapatkan kucuran dana dari PNPM sebesar –kalau saya tidak salah dengar– dua ratusan juta lebih. Dana itu diperuntukan bagi program pengentasan kemiskinan di desa itu. Bila digunakan dengan baik oleh warga masyarakat di desa itu, tentu uang sebesar itu akan banyak berbuah perubahan di desa itu–terlepas perubahan positif atau negatif…he he he he he….
Hanya saja, kata teman saya, jeda waktu antara pengumuman penerimaan dana itu dengan pengambilan keputusan apakah desa itu akan menerima atau tidak, sangat pendek. Kemarin pagi pengumuman, katakanlah presentasi program itu sebagai pengumuman, lalu malam harinya, kalau tidak salah pukul 24.00, adalah waktu terakhir bagi keputusan desa untuk menerima atau tidak kucuran dana itu.
Selesai mendengar cerita itu saya berfikir, mengapa harus satu hari memutuskan itu? Lebih cepat memang lebih baik, tapi bila menghendaki adanya upaya pengentasan kemiskinan, apalagi bila ditambahi dengan upaya yang partisipatif, kayaknya hasilnya tidak akan tercapai, kecuali dananya akan habis untuk kegiatan. Dan setelah itu, masyarakat kembali seperti semula.
Untuk masalah yang begini saya berharap saja kepada para pejabat PNPM, maksudnya mereka yang mengelola PNPM, agar lebih arif lah dalam memposisikan masyarakat desa. Bagi masyarkat desa, dana sebesar itu bagaikan hujan turun di hari tanpa mendung. Mengagetkan! Bila tanpa kesiapan masyarakat, bukan tidak mungkin dampak yang diakibatkan adalah negatif, bukannya positif sebagaimana yang diidealkan.
Bila dampaknya negatif, yang salah menurut saya adalah pihak pengelola PNPM. Mungkin salah design programnya, atau fasilitatornya —bila fasilitatornya asal berkerja tanpa peduli dengan kearifan warga desa. Sungguh saya, dan mungkin anda, tidak berharap demikian…apalagi bila dana PNPM itu asalnya adalah dana hutang. ***

![[Ask]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/ask.png)
![[Bloglines]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/bloglines.png)
![[del.icio.us]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/delicious.png)
![[Digg]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/digg.png)
![[Facebook]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/facebook.png)
![[Feed Me Links]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/feedmelinks.png)
![[Google]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/google.png)
![[LinkedIn]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/linkedin.png)
![[MySpace]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/myspace.png)
![[Twitter]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/twitter.png)
![[Windows Live]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/windowslive.png)
![[Yahoo!]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/yahoo.png)
![[Email]](http://akhmadmurtajib.com/wp-content/plugins/bookmarkify/email.png)









