banner ad

Menolak pembangunan gang kampung

Beberapa hari lalu saya diundang dalam pertemuan RT. Saya tahu tema pertemuan setelah pertemuan berlangsung setengah jam. Rupanya pertemuan itu untuk membahas tentang rencana pembangunan gang (jalan kecil) kampung.

Kebetulan saja gang yang hendak dibangun melewati rumah saya. Saya merasa sangat berkepentingan, sehingga, begitu saya diberi kesempatan bicara, saya menyampaikan uneg-uneg saya.

Saya tidak langsung menyatakan uneg-uneg saya tentang setuju atau tidak setuju dengan pembangunan gang itu. Saya awali pembicaraan saya dengan bercerita hal lain.

Cerita pertama tentang kota-kota besar dimana gang-gang kecil pun telah bersemen. Hampir sulit mencari tanah yang lebar dan tidak tertutup semen diatasnya. Dan, air menjadi tergenang ketika hujan beberapa jam. Tak cukup pembuangan airnya.

Cerita kedua tentang seringnya air sumur menjadi bau –di beberapa tempat, termasuk juga beberapa di kampung saya. Salah satu, atau malah satu-satunya sebab adalah buruknya saluran pembuangan air.

Sedang cerita ketiga adalah, pemandangan yang tidak sedap dimata. Hampir tiap pagi para ibu-ibu, kadang juga bapak-bapak, lewat depan rumah, membawa bungkusan plastik, ada juga ember, dll. Isinya? Sampah. Mereka hendak membuang sampah di pekarangan kosong, yang sebenarnya bukan tempat sampah.

Setelah cerita dua hal itu saya mengajukan pertanyaan, mengapa tidak membangun saluran pembuangan air atau tempat sampah? Padahal, bila dicermati mendalam, saluran pembuangan air atau tempat pembuangan sampah itu lebih penting, daripada membangun (mensemen) gang kampung?

Sampai akhir pertemuan, tetap saja disepakati dilaksanakannya pembangunan gang itu. Sementara, walau juga sempat didiskusikan di sela-sela pertemuan, usulan saya untuk bikin saluran pembuangan air dan tempat sampah, hanya tinggal usulan.

Ketika menulis ini pembangunan jalan itu belum dilaksanakan. Konon gagal, mungkin dampak dari kampanye saya kepada warga. Saya memang menolak pembangunan gang itu. Saya mendukung pembangunan di kampung saya, asalkan saja: sesuai dengan kebutuhan warga, ramah lingkungan, tidak mempertebal sikap individual, dan ramah anak.

Semoga ada tetangga yang membaca. Mohon maaf dan terimakasih.

Filed Under: Sosial

Tags:

RSSComments (1)

Leave a Reply | Trackback URL

  1. rudis says:

    setuju untuk apa buat gang kalau sampah dan parit tidak ada kan mubazir

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.

Anti-Spam Protection by WP-SpamFree