Ngopi-ngopi

“Äyo, ngopi-ngopi,” pesenku melalui es em es. Atau, kadang saya menulis kopi atau ngopi dalam status di facebok atau twitter. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Kopi atau ngopi, kata yang selalu saya ikut sertakan dalam tulisan pendek saya.

Ya, saya memang suka ngopi. Tidak hanya tiga kali sehari, tapi bahkan sampai lima atau tujuh kali. Bahkan kadang lebih. Ngopi menjadi hal yang sangat menyenangkan, apalagi bila sedang nongkrong di depan Computer, nulis sesuatu.

Terlebih ketika sedang ngobrol bareng banyak orang, ngopi gak ketinggalan. Jujur saja, saya merasa gak betah ketika misalnya mertamu ke rumah seorang teman, dan rencana mertamunya agak lama, tapi tanpa ada suguhan kopi. Terasa hambar. Ha hahaha.

Tapi sebenarnya, bukan itu yang membuat saya suka kopi. Tapi dengan kopi, banyak hal menarik dalam kehidupan ini saya dapatkan. Kopi tidak hanya menjadi hal yang empirik, tapi juga mengandung makna sosiologis yang mendalam.

Singkatnya. Saya tinggal di wilayah kota dimana masyarakatnya sudah mulai individual. Hampir jarang rumah di sekeliling saya terbuka. Kata terbuka mengandung makna, tidak sendirian, saling berkunjung, atau setidaknya “penghuninya tidak di rumah terus, tapi keluar sekedar nongkrong dengan tetangga untuk sekedar guyon dan ngobrol hal-hal biasa”.

Saya tinggal di desa yang hampir kota, dan saya merasa terasing ketika kehidupan para penghuni rumah-rumah di sekeliling saya sudah mulai hidup sendiri-sendiri, individual. Kopi, menjadi salah satu media bagi saya untuk mencairkan kembali cara hidup individualis itu.

Dengan bersanding kopi, walau tanpa topik, orang-orang  yang duduk  bersama bisa ngobrol apa saja. Dari masalah politik, budaya, intrik, dan lain-lainnya.  Kopi hanya menjadi media, dan mereka yang gak suka kopi bisa berganti teh atau sekedar air putih. Jadi, kopi menjadi media bertemuanya masyarakat  yang kian terjerembab dalam budaya individualis.

Mari kita hidupkan kebersamaan, mari kita ngopi-ngopi….

One thought on “Ngopi-ngopi

Leave a Reply