Ba’da Salah Tarwih, 20 Agustus 2010, di pelataran rumah saya, di pinggir sawah. Enampuluhan teman dari berbagai (latar) agama dan mazhab duduk melingkar saling bergantian menyampaikan pengalamannya pernah berteman dengan Romo Slamet yang beberapa waktu lalu dipanggil Tuhan..
Romo itu orang yang jujur dan tekun, kata Romo Sumanto. Dia berjuang untuk bisa jadi romo, dan selalu gagal. Tapi karena kejujuran dan ketekunannya, dia akhirnya sukses. Sepanjang umurnya, dia abdikan hidupnya untuk pelayanan umat. Dan dia pun bisa mepertanggungjawabkan semua model pengabdian itu.
Romo itu orang yang susah dipahami, dan kami yang telat mikir baru paham setelah kejadian, kata Atmaji. Contohnya dalam pembuatan dekorasi suatu acara. Biasanya kami hanya membikin dengan kertas atau gabus. Tapi romo menginginkan yang aneh-aneh, seperti pake daun ini dan itu, pohon ini dan itu. Kami pikir itu terlalu berlebihan. Tapi begitu jadi, romo menceritakan mengapa mesti demikian. Bahwa dekorasi pake pohon-pohon itu akan bisa menjadikan kita lebih mencintai alam.
Romo juga seorang yang tidak mempedulikan dirinya bila membantu orang lain. Wawan menceritakan dirinya saat acara di tempat yang dingin. Romo itu punya penyakit asma, dan ketika itu sedang parah-parahnya. Tapi ketika kami tanya apa romo bisa membantu kami di acara itu, romo bilang siap tanpa mempedulikan kesehatannya.
Romo itu hidup bukan di dunia yang penuh dengan tepuk tangan, tapi totalitasnya dalam melayani umat luar biasa. Tokoh agama lain perlulah belajar banyak dari beliau. Saya salut walau saya tidak banyak bergaul dengan dirinya, kata abduh dari Muhammadiyah.
Semangat berbagi romo luar biasa. Saya kira cuma saya yang banyak diberi ilmu oleh beliau, kata Ari, eh ternyata semua orang memang diberi hal serupa. Iin juga membenarkan semangat berbagi itu dalam kontek pendidikan anak dan keluarga. Juga Supra menjelaskan pengalaman tentang pelajaran mengenai analisa masalah yang dipelajari dari romo.
Romo itu orang yang luar biasa, walau pun dia Katolik dan saya Muslim tapi saya merasa dia sebagai bapak saya sendiri, kata Supra.
Dan banyak lagi pernyataan teman-teman di malam itu. Teman-teman tidak hanya katolik, tapi juga Muslim dan lainnya. Pernyataan berupa pengalaman setelah berteman dengan romo Slamet. Yang meninggal beberapa hari lalu, di umurnya yang masih muda, 42 tahun. Dan mereka merasa kehilangan dengan berpulangnya romo ke pangkuan Tuhan.
Ya, acara yang dimoderatori kang kholid itu memang untuk mengenang Romo Slamet. Seorang katolik yang hidupnya, khususnya saat di Kebumen antara 2004-2009, tidak pernah membuat sekat-sekat keagamaan dalam mencintai sesama. Ya, romo adalah orang yang tanpa lelah sepanjang hidupnya, khususnya saat di Kebumen, untuk mencintai sesama. Cinta yang diujudkan dalam bentuk memberdayakan orang-orang di sekitarnya.
Acara bertajuk “Jangan Pernah Lelah untuk Mencintai Sesama” malam itu ditutup dengan doa, untuk kedamaian romo juga untuk semua yang hadir agar mendapatkan semangat untuk bisa melajutkan semangat romo, untuk terus jangan lelah mencintai sesama demi hidup yang lebih bermartabat. Amin.

selamat jalan buat romo, sangat menginspirasi, betapa damainya dunia ini kalau kerukunan antar umat beragama berjalan lancar…..
Cah Angon Gembala Yang Baik
(Pusi buat Alm.Romo Slemet)
Kebersamaan, saling membagi, sayang antar sesama.
Kau lah ikon produk pemimpin Katolik.
Tapi, kau Romo Slamet di almari mayat Banyumas
Kau pemimpin hidup bagi umat
(NU, Muhmmadiyah, konghucu, bahan atheis javanisme)
kaum behomian plortarial)
Romo…
Cah angon Sang gembala yang baik
Kau mirip Nabi muhammad SAW, Bunda Teresa, Ahmad Dahlan, Ahimsa, Gusdur,. apakah kau darah Yesus..?
Romo…..
Cah angon Sang gembala yang baik
Apakah kau mengingnkan umat umnat yang berbeda itu
berkayinan, kaya msikin, warna kulit ingin bersatu bersama
Romo…..
Cah angon Sang gembala yang baik
Kebumen butuh kau….
Banyumas butuh kau…
“/// tidak ada perang….berkecamuk
tidak ada konflik idiologi
tidak ada kemiskinan takkentara
apalagi sengketa….. kebersamaan..///”
Romo…..
Cah angon Sang gembala yang baik
Kau penjarum hidup perbedaan gembala
kami . .
merekam tauziyah-MU di gereja
Romo…..
Cah angon Sang gembala yang baik
ampun romo…. ampun romo..
saatnya menebus dosa
walaupun aku tidak bisa melayatmu di makam
Aku yakin kau tetap bahagia
satu kata, dua kata doa
salam kedaimaian di lahang liat.
Eko Wahyudi
Kebumen, 20 agustus 2010
assalam mulaikum…ternyata kalau hidup dengan penuh kerukunan dan kedamaiaan…kita akan tentram..dan bahagai…walaupun susah…tapi tapi terbukti bisa…terima kasih atas respon yang begitu antusias…terhadap Romo…Slamet…senadainya saja..semua sepaham dengan..Akhmad M…pasti negeri tercinta Indonesia..akan penuh dengan kedamaian, keindahan, yang akan lebih maju…
gust 26th, 2010 at 5:48 pm
tak pernah berhenti menulis untuk berdampingan manusia alam semesta
kapan lagi akan menulis, eko yang baik?
kalau seluruh penjuru tanah air dan semua agama bisa guyub seperti ini, betapa damainya negriku
tak pernah berhenti menulis unntuk bersama
tak pernah berhenti menulis untuk berdampingan
Tak akan pernah lelah untuk mencintai sesama…berusaha selalu untuk berlomba lomba berbuat baik..Tuhan menyertai kita..:)
tak pernah berhenti menulis
Luar biasa
hanya itu yang bisa saya katakan karena saya baru mengenal dia…
[from blog] Jangan pernah lelah untuk mencintai sesama – http://akhmadmurtajib.com/blog/2010/08/2...
aq sudah belajar nulis
mashary.batamtradezone.com
nice post….salam kenal….