Merdeka dari media masa

kang tajib

Itu sudah lewat. Itu sudah gak aktual lagi.  Sudah ganti topik. Dan komentar serupa yang kadang saya terima dari beberapa teman.

Contohnya, ketika saya posting status di facebook berkait topik kekerasan dalam rumah tangga, KDRT, seorang teman berkomentar bahwa isu itu sudah lewat. Disaat lain, ketika suatu hari saya diundang untuk ngomong tentang “bagaimana mensikapi hidup di zaman yang apa-apa serba mahal” saya bilang bahwa kembali ke alam, dengan cara mengelola pekarangan kita sebagai alternatif, itu dikatakan juga gak aktual. Ada lagi yang komen tidak aktual ketika ngomong tentang politik uang tapi pemilihan umum sudah selesai.

Ya, sesuatu yang aktual, seolah sesuatu yang baru. Saat ramai-ramainya tabung gas meledak, itu aktual. Begitu nanti sepi berita tabung gas meledak dianggap sudah lewat. Saat video Aril Luna jadi berita, itu aktual. Lama-lama hilang dari perederan, ya out of date. Dulu, Tsunami Aceh itu aktual banget tapi sekarang sudah tidak lagi isu baru. Sesuatu yang aktual, sesuatu  yang baru, sesuatu yang anyar. Yang sudah biasa, tidak lagi aktual. Kedaluwarsa.

Saya bertanya, siapa yang menentukan sesuatu disebut aktual, baru, dan sesuatu disebut tidak lagi aktual, tidak lagi baru, out  of date? Yang membuat sesuatu yang aktual dan tidak aktual adalah media masa. Media punya kekuatan untuk menjadikan sesuatu menjadi sangat aktual, lalu jatuh tidak aktual lagi. Gempa, tentu pada masanya tetap aktual, tapi kemudian tidak lagi aktual.

Kita kita ini hanya ikutan terbawa arus media, sehingga kita pun kadang ikutan media mengatakan sesuatu tidak aktual. Seperti cerita saya di awal tulisan ini, tentang kekerasan dalam rumah tangga. Media pun tidak menyebut itu isu aktual. ketika kasus Manohara mencuat, itupun sejatinya bukan isu KDRT-nya yang menarik. Tapi  Manohara sendiri yang memang news-maker woman. Kita ini selalu terbawa arus isu media masa yang mengatakan KDRT bukan isu aktual..

Sehingga, apa yang serin gterjadi di sekitar kita, karena tidak aktual, luput dari perhartian kita. Seperti kasus KDRT di sekitar kita. Atau seperti kasus kebingungn masyarakat ketika harga lombok melambung tinggi, satu kilogram sampai Rp 30 ribu, dan solusiya adalah nandur lombok sendiri. Itu tidak lagi aktual.

Ya, banyak dari kita yang tidak bisa independen dari media. Banyak dari kita yang merasa malu bila dikatakan tidak aktual dalam isu yang kita obrolkan. Padahal sejatinya, salah satu ciri orang yang berdaya adalah, ketika seseorang bisa berdiri independen tanpa intervensi media masa. Ketika seseorang merdeka dari pengaruh media masa.***

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Add to favorites
  • LinkedIn
  • Live
  • MSN Reporter
  • Reddit
  • Technorati


Leave a Reply