Sumiah, WC dan Sumurnya

kang tajib

Bukan musim kemarau, bukan pula di daerah kering. Tapi Sumiah harus mengayuh sepeda setidaknya dua kali sehar,pagi dan sore, sejarak sekitar 2 kilometer. Sekedar untuk mandi, dan –maaf– beol.

Ceritanya berawal dari kecelakaan anaknya, Parmin. Kecelakaan yang berbuntut amputasi kaki anak ibu Sumiah.

Biaya rumah sakit cukup besar, yang hampir tidak bisa dipenuhi ibu Parmin. Dan, solusi untuk dapat uang tuk biaya rumah sakit, Sumiah harus menjual beberapa meter tanahnya. Di tanah yang dijual itu, ada sumur dan WC tempat sehari-hari Ibu Parmin mandi, beol, masak, dan sebangsanya.

Parmin bisa pulang rumah sakit, tapi tanah beserta sumur dan WC telah hilang.

Pembelinya, kebetulan tetangga Sumiah, mengurug sumur dan WC itu, dan membangun gedung baru di atas tanah itu. Satu kamar untuk dijadikan tempat kost. Kebetulan desa tempat tinggal itu sedang musim kost-kosan.

Entah sudah dipertimbangkan Sumiah sebelumnya, dia dan anaknya tak lagi bisa menjalankan urusan belakang. Karena gak ada lagi sumur, gak ada lagi WC. Bisakah numpang di tetangganya? Entahlah.

Yang jelas, saya mendengar bahwa kini dia haru mengayuh sepeda sekitar dua kilometer ke desa lain, desa mbahnya: hanya untuk sekedar mandi dan beol. Mungkin ada urusan lain, tapi dua kebutuhan itu sepertinya yang utama.

Dari lorong dunia, saya sempat berfikir, sudah begitukah ya relasi pertetenggaan masyarakat kita?

Posted with WordPress for BlackBerry. Sambil Iseng plus Ngopi.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Add to favorites
  • LinkedIn
  • Live
  • MSN Reporter
  • Reddit
  • Technorati


3 Responses to “Sumiah, WC dan Sumurnya”

  • Pemimpin Rakyat Says:

    hidup indiviualistik (dewek-dewek) kebersamaan hidup bertetangga sudah seperti orang jauh, semua orang bertetangga pasti kebanyakan ribut dan acuh tak acuh (pada padu). karena sudah tahu watak nya satu dengan yang lainnya. Repotnya jelek dan burknya dan baiknya tahu smeua. sehingga perlu solusi apa yang menjadikan hidup betetangga, yaitu membangun komunitas baru dengan kebuthan komunitas di tepat tersebut. . coba Sumiah dan para tetangganya dipertemukan, ngopi-gopi bareng dan cari akar masalahnya. pasti ketemu. heee gitu aja ya..
    kopirevolusi,(pahit kecut)

    [Reply]

    kang tajib Reply:

    sebenarnya ada banyak ruang pertemuan di desa….mulai dari ruang pertemuan yang formal seperti pertemuan RT………sampai pertemuan lain seperti yasinan, termasuk pertemuan pengajian…khuusnya yang banyak pengajian ibu-ibu. Sayangnya dalam pertemuan macam demikian, persoalan seperti yang dihadapi Sumiah…tidak menjadi persoalan penting untuk dibahas…

    bila demikian, what next?

    [Reply]

Leave a Reply