Sumiah, WC dan Sumurnya

Bukan musim kemarau, bukan pula di daerah kering. Tapi Sumiah harus mengayuh sepeda setidaknya dua kali sehar,pagi dan sore, sejarak sekitar 2 kilometer. Sekedar untuk mandi, dan –maaf– beol.

Ceritanya berawal dari kecelakaan anaknya, Parmin. Kecelakaan yang berbuntut amputasi kaki anak ibu Sumiah.

Biaya rumah sakit cukup besar, yang hampir tidak bisa dipenuhi ibu Parmin. Dan, solusi untuk dapat uang tuk biaya rumah sakit, Sumiah harus menjual beberapa meter tanahnya. Di tanah yang dijual itu, ada sumur dan WC tempat sehari-hari Ibu Parmin mandi, beol, masak, dan sebangsanya.
Continue reading

Aku merindukanmu, kawan!

Mungkin kamu sudah jadi orang penting sehingga begitu sibuk. Dan tidak bisa meluangkan waktu untuk sekedar ngopi bersama. Padahal dulu, bersama teman-teman lain, kita sering makan nasi liwet berlauk sayur kangkung, bersama. Tapi,  itu dulu, hanya sejarah.

Sungguh aku merindukanmu. Sekedar ngopi, sekali lagi sekedar ngopi. Sambil ngobrol ngalor-ngidul tentang apa itu ideologi yang susah dipahami. Atau ngobrol tentang kehidupan politik yang makin njelehi. Juga tentang kabar teman-teman lain yang kini entah rimbanya dimana. Aku merindukan kehadiranmu.

Continue reading

6 Butir Lombok, Rp 1000

Ganti bunga di halaman kita dengan tanaman lombok. Sederhana saja saya ngomong begitu, ketika beberapa waktu lalu mendengar ibu-ibu kampung ngrumpi mahalnya harga lombok. 6 butir saja sampai seribu rupiah.

Bukan berita sebenarnya tentang naiknya harga lombok. Karena hal demikian sudah seringkali terjadi. Namun demikian, jarang orang mengambil pelajaran dari situasi demikian. Kesandung beberapa kali, paling ngrumpi obatnya.
Continue reading

Merdeka dari media masa

Itu sudah lewat. Itu sudah gak aktual lagi.  Sudah ganti topik. Dan komentar serupa yang kadang saya terima dari beberapa teman.

Contohnya, ketika saya posting status di facebook berkait topik kekerasan dalam rumah tangga, KDRT, seorang teman berkomentar bahwa isu itu sudah lewat. Disaat lain, ketika suatu hari saya diundang untuk ngomong tentang “bagaimana mensikapi hidup di zaman yang apa-apa serba mahal” saya bilang bahwa kembali ke alam, dengan cara mengelola pekarangan kita sebagai alternatif, itu dikatakan juga gak aktual. Ada lagi yang komen tidak aktual ketika ngomong tentang politik uang tapi pemilihan umum sudah selesai.

Continue reading